Senin, 29 Maret 2010

Jatiluhur, 300 Tahun Lagi

Magrib baru saja lewat. Tapi pengeras suara di surau-su-rau dan masjid di Desa Cilamaya Girang, Keca-mat-an Blanakan, Kabupaten Subang, Jawa Barat, kemba-li tak henti-hentinya berbunyi Selasa pekan la-lu. Warta yang disampaikan genting: Waduk Jatiluhur dikabarkan akan jebol dan airnya akan menggelontor ke Su-ngai Cilamaya yang melewati desa tersebut. Penduduk diminta berjaga-jaga. Begitu mendengar pengumuman itu, warga desa yang berada di tapal batas Kabupaten Subang dan Karawang- itu pun kontan berjaga-jaga semalaman.

Kegelisahan yang sama sempat melanda warga Desa Cikao Bandung, Kecamatan Jatiluhur, Purwakarta, hari itu. Maklum, posisi wilayah desa mereka persis di bawah waduk terbesar di Indonesia itu. Sebagian wilayah desa mereka bahkan sudah terendam banjir sejak Kamis sepekan sebelumnya akibat limpasan air dari Jatiluhur.

Penduduk kian panik setelah beredar pesan pendek yang menyebutkan ben-dungan Jatiluhur akan segera jebol. Dalam sekejap mereka pun langsung lari tunggang-langgang. Mereka mengungsi ke perbukitan Cimungput, Ciputat, dan Baras di selatan Jatiluhur. Rumah-rumah mereka yang terendam setinggi 2 meter ditinggalkan begitu saja. "Kami takut tenggelam," kata Subarkah, penduduk setempat.

Tidak hanya warga di sekitar Waduk Jatiluhur yang panik. Isu jebolnya ben-dungan yang mulai dioperasikan pada 26 Agustus 1967 itu juga menghantui warga di sepanjang daerah aliran Su-ngai Citarum, meliputi Purwakarta, Karawang, Bekasi, juga Subang.

Penduduk pantas waswas karena po-tensi bencana yang ditimbulkan se-andainya bendungan yang juga disebut Waduk Ir Djuanda itu jebol memang -sangat dahsyat. "Tingkat kerusakan-nya lebih besar daripada tsunami di Aceh," kata Kepala Bidang Teknologi Miti-gasi Bencana Badan Pengkajian dan Pe-ne-rapan Teknologi Sutopo Purwo Nu-groho.

Waduk seluas 8.300 hektare itu menyimpan air 2,556 miliar meter kubik. Jumlah itu 1.000 kali lebih banyak daripada volume air di Waduk Situ Gintung, yang hanya 2,1 juta meter kubik. Tanggul Situ Gintung yang jebol pada 27 Maret 2009 menenggelamkan sedikitnya 100 jiwa dan merusak ribuan rumah.

Sutopo memaparkan, jika bendungan yang digagas Prof. W.J. van Blommes-tein pada 1948 itu jebol, air yang tumpah diperkirakan akan menjadi gelombang pasang setinggi 13 meter yang melaju lebih dari 50 kilometer ke hilir (utara). Air bah itu akan menyapu Purwakarta, Karawang, Subang, Bekasi, sampai pantai utara Jawa. Diperkirakan ada 11 juta penduduk yang akan terkena dampak jebolnya waduk tersebut.

Untunglah, Jatiluhur masih bertahan hingga pekan lalu. Warga Desa Cikao Bandung pun bisa menghela napas lega. "Alhamdulillah, kami bisa lebih tenang sekarang," kata Subarkah. Ia pun sudah pulang dari pengungsian.

Posisi Jatiluhur memang sangat pen-ting. Ia bagaikan benteng air terakhir dari rangkaian waduk cascade (bertangga) dari Waduk Saguling dan Cirata yang menampung aliran di daerah aliran Sungai Citarum. Ketika curah hujan di daerah hulu, Bandung dan sekitarnya, sangat tinggi, air akan memenuhi Saguling terlebih dulu. Jika Saguling tak mampu menampung, air akan mengalir ke Cirata, dan selanjutnya ke Jatiluhur. "Jika Jatiluhur sudah tidak menampung debit air, otomatis air akan melimpas," kata Sutopo.

Air limpasan itulah yang pekan lalu mengakibatkan banjir dan merendam sebagian wilayah Purwakarta dan Karawang. Air limpasan terjadi akibat waduk tersebut tak mampu lagi menampung debit air dari daerah hulu. "Air limpasan baru dari morning glory (pelimpasan pertama)," katanya. Pelimpasan air biasa dilakukan jika vo-lume air meningkat drastis untuk mengurangi tekanan air pada struktur bangunan bendungan.

Batas tertinggi air di waduk tersebut adalah 107 meter. Berdasarkan data yang dimiliki Sutopo pada 12 Maret, air sudah melewati ambang batas dan mulai meluber di pintu pelimpas (spillway). Puncaknya terjadi pada 23-24 Maret. Ketinggian air mencapai lebih dari 108 meter. Air limpasan itulah yang kemudian menjadi banjir.

Air yang melimpas, kata Sutopo, bukanlah indikasi dari akan jebolnya bendungan. "Jatiluhur masih aman," kata doktor dari Institut Pertanian Bogor yang menyusun disertasi tentang daerah aliran Sungai Citarum itu. Menurut dia, konstruksi bendungan didesain dengan kekuatan yang cukup untuk ratusan tahun dan tahan gempa.

Hal yang sama disampaikan oleh pihak Perum Jasa Tirta (PJT) II yang menjadi operator Waduk Jatiluhur. "Tinggi muka air waduk memang sudah berada di ambang batas, tapi kami masih bisa mengendalikannya," kata Direktur Utama PJT II Jatiluhur Djendam Gurusinga. "Volume air memang sudah luar biasa, sudah limpas, tapi tidak dalam kondisi kritis," katanya.

Agar luapannya tak berdampak negatif pada kondisi bangunan tanggul waduk dan menimbulkan banjir besar, debit air pun dikurangi sedikit demi sedikit. Selain melalui pintu limpasan yang tersedia, air dibuang lewat turbin. Jumlahnya 230 meter kubik per detik. "Sejauh ini hasilnya bisa terkendali," kata Djendam. Ia menambahkan bahwa meluapnya air Waduk Jatiluhur seperti sekarang ini pernah terjadi pada 1975, 1984, dan 1994.

Djendam mengaku tak bisa meramalkan kapan luapan air di Waduk Jatiluhur tersebut akan berakhir. Sepanjang curah hujan di wilayah Jawa Barat selatan masih tinggi, kata Djendam, debit air waduk akan tetap tinggi.

Rabu pekan lalu, Menteri Pekerja-an Umum Djoko Kirmanto langsung -meninjau lokasi waduk. "Kondisi ben-dung-an ini masih aman," Djoko menyimpulkan. Ia mengungkapkan ben-dungan baru bisa disebut dalam kondisi kritis jika tinggi muka air sudah berada di level 110 meter, sedangkan titik paling kritis berada di level 114 meter. Pelimpasan, kata Djoko, telah membuat tinggi muka air bendungan terjaga sehingga sulit mencapai titik tertinggi.

Supangat, tenaga ahli PJT II Jatiluhur, memastikan selama belum menyentuh titik paling kritis di level 114 meter, bendungan itu akan tetap berdiri kukuh. "Kemampuan bertahannya masih 300 tahun ke depan," kata Supangat. Menurut dia, hingga kini struktur bangunan bendungan belum terganggu dan masih dalam kondisi baik.

Meski demikian, kata Sutopo, potensi jebolnya Jatiluhur harus tetap diwas-padai. Sebab, wilayah Jawa Barat me-rupakan daerah rawan gempa. Guncangan akibat menggeliatnya kerak bumi bisa mengakibatkan retakan pada konstruksi waduk yang menambah ke-rawanan. Curah hujan yang tinggi serta perubahan iklim juga meningkatkan risiko jebolnya tanggul.

Perkembangan penduduk dan permukiman yang begitu pesat sehingga mengurangi daerah tangkapan air, kata Sutopo, juga meningkatkan kerawanan bendungan. Penduduk pun menempati daerah berisiko tinggi.

Untuk memperkecil risiko bencana, Sutopo menilai manajemen bendungan perlu diperhatikan. Harus disediakan dana besar untuk operasional dan pemeliharaan bendungan. "Umumnya, biaya untuk komponen operasional -dan pemeliharaan selalu tak menjadi prio-ritas," katanya.

Sutopo juga menyarankan perilaku bendungan dipantau terus-menerus. Bila perlu, operator memasang sistem peringatan dini dan membuat rencana darurat untuk mengantisipasi terjadinya bencana. Jangan sampai tragedi Situ Gintung terulang di Jatiluhur.

Gunanto E.S., Nanang Sutisna (Purwakarta)

"Jatiluhur Masih Aman"

Bendungan Jatiluhur dianggap masih dalam keadaan aman meskipun ketinggian air mencapai 108 meter seperti pada 23-24 Maret lalu. Air yang lebih tinggi dari pintu limpasan itu otomatis akan mengalir melalui pintu tersebut sehingga tidak membebani bendungan.

Batas tertinggi pintu pelimpas : 107 meter

Ketinggian pada 23-24 Maret : 108 meter

Batas kondisi kritis : 110 meter

Titik paling kritis : 114 meter



sumber : Tempo Online

0 komentar:

Poskan Komentar

Daftar Blog


 

Indonesia Hijau Copyright © 2009 Community is Designed by Bie

world.gif Pictures, Images and Photos