Minggu, 16 Agustus 2009

Monumen Tugu Proklamasi, Riwayatmu Kini....


Minggu, 16 Agustus 2009 | 21:30 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Menjelang perayaan hari ulang tahun kemerdekaan Republik Indonesia yang ke 64, suasana ramai tampak terlihat di Komplek Monumen Tugu Proklamasi, Jakarta, Minggu (16/8).

Berbagai acara, mulai dari acara malam renungan, napak tilas proklamasi hingga upacara hari kemerdekaan RI telah dan akan diselenggarakan di tempat yang secara resmi diresmikan oleh presiden kedua RI, Soeharto pada 16 Agustus 1980 itu.

Alasan sejarah telah menjadi salah satu alasan kuat bagi pihak panitia penyelenggara acara untuk menyelenggarakan acara di bekas lokasi rumah Presiden RI Pertama itu.

Pasalnya, di tempat inilah sang proklamator, Soekarno yang ditemani oleh Mohammad Hatta untuk yang pertama kalinya membacakan teks proklamasi kemerdekaan RI pada 17 Agustus 1945 lalu, pembacaan teks proklamasi itu sekaligus menjadi tonggak awal bagi bangsa Indonesia menjadi bangsa yang merdeka dan lepas dari jajahan negara asing. Karenanya lokasi tersebut merupakan lokasi yang sangat bersejarah bagi bangsa Indonesia.

Namun bagaimanakah sebenarnya kondisi dari tempat bersejarah itu? "Memprihatinkan dan sangat disayangkan," demikian ungkapan kekecewaan seorang warga masyarakat, Eddy Safuan kepada Kompas.com saat ditanyai pendapatnya mengenai kondisi Monumen Tugu Proklamasi saat ini.

Eddy yang juga mengaku sebagai pemerhati sejarah mengaku miris melihat kondisi Monumen Tugu Proklamasi. Pasalnya, ia menilai, kondisi dari monumen tersebut terlihat tidak terawat dengan baik. Adanya sejumlah coret-coretan yang terdapat di monumen tersebut, merupakan salah satu tandanya. "Belum lagi air mancur di Monumen yang nggak nyala. Lampu-lampu juga banyak yang pecah," ujarnya

Tak hanya itu, pria umur 61 yahun itu juga mengaku masih memiliki sejumlah kekecewaan lain terhadap kondisi monumen yang memiliki jasa dan nilai sejarah yang amat besar bagi bangsa ini.

"Pertama saya sangat menyayangkan rumah Bung Karno yang dulu jadi tempat dikumandangkannya proklamasi sekarang sudah tidak ada. Harusnya rumah itu dibangun lagi," katanya.

Selain itu, letak posisi Monumen Tugu Proklamasi yang dinilainya salah juga semestinya menjadi perhatian bagi pihak terkait, karena hal itu dapat membuat kesalahan persepsi sejarah.

"Semestinya letak Monumen patung Bung Karno dan Buing Hatta itu jangan di situ. Semestinya letaknya ada di tugu petir itu, karena rumah Bung Karno dulu adanya di lokasi Tugu Petir itu. Bahaya kalau letak Tugu Proklamasi adanya di situ, orang bisa salah persepsi, nanti dikiranya di lokasi itu Bung Karno membacakan teks proklamasinya," paparnya.

Atas dasar itu, Eddy meminta kepada aparat terkait agar bersungguh-sungguh merawat dan melestarikan monumen tersebut. Tak hanya itu, Eddy juga meminta agar monumen bertaraf nasional seperti Tugu Proklamasi, langsung dikelola oleh pemerintah pusat, bukan oleh pemerintah daerah.

Karena, menurutnya, di masa pemerintahan Presiden Soekarno saja yang mengelola Monumen Nasional (Monas) adalah Sekretariat Negara. " Dan jika sudah dikelola pemerintah pusat, kemudian harus ditata ulang, setelah itu dirawat yang benar agar tidak menghilangkan jejak sejarah bangsa," katanya.

Sementara itu, Udju (60) menilai, kondisi Komplek Monumen Tugu Proklamasi yang sangat terbuka bagi para pengunjung telah membuat kondisi fisik monumen menjadi tercemar atau seperti tak terawat. Karena, para pengunjung yang datang menurutnya tidak mau ikut merawat monumen.

"Orang yang datang cuma mau pakainya saja, pelihara nggak mau. Terlalu berat bebannya tempat ini. Misalnya, tempat ini dijadiin tempat main bola sama anak-anak. Kan nggak bener itu," katanya.

Kesadaran Masyarakat Dibutuhkan Direktur Unit Pengelola Monumen Nasional yang menjadi pengelola Monumen Tugu Proklamasi, Im Rini Hariyani, mengeluhkan tingkat kesadaran masyarakat yang dinilainya masih sangat kurang terhadap pelestarian monumen sebagai tempat yang bersejarah.

Salah satu contohnya menurutnya adalah, adanya oknum masyarakat yang sering berbuat 'nakal' terhadap fasilitas monumen, misalnya merusak lampu - lampu taman atau bahkan mencurinya, mencoret-coret dinding dan monumen.

Selain itu masyarakat sekitar wilayah tugu proklamasi juga menurutnya kurang menghormati makna dari tempat bersejarah itu. Hal ini dapat dilihat dari adanya masyarakat yang menjadikan area seputar monumen menjadi tempat untuk bermain bola.

"Kan akibat mereka main bola tembok jadi pada kotor. Sebenarnya kita nggak ada masalah kalau mereka ikut menjaga. Selain itu ketua wilayah dan tokoh masyarakat sekitar juga harusnya peduli. Ini kita sudah mati-matian buat merawat tapi warga nggak ada kerjasamanya," keluhnya.

Rini yang baru menjabat pada tahun ini mengaku, sejauh ini belum mengalami kesulitan yang berarti dalam mengurus monumen itu. Dengan berbekal anggaran yang telah diajukannya ke pihak pemerintah daerah yang rencananya akan cair di bulan Oktober mendatang, Rini mengaku akan menata dan melakukan pengelolaan yang lebih baik terhadap monumen itu ketimbang sebelumnya.

Hal pertama yang akan dilakukannya setelah anggaran perawatan monumen cair adalah melakukan pergantian pagar depan monumen dan melakukan perawatan terhadap dua patung , Soekarno - Hatta, yang saat ini sudah terlihat kusam.

Semoga saja kedepan tempat-tempat yang memiliki aspek sejarah bagi perjalanan bangsa ini dapat lebih diperhatikan keberadaannya, serta mendapatkan perawatan dan perhatian yang serius dari pihak yang terkait.

Karena, meskipun hanya sebatas benda atau tempat, keberadaan tempat atau benda-benda bersejarah itu tetap dibutuhkan dan diperlukan oleh bangsa kita, untuk menjadi bukti perjuangan dan kebesaran bangsa ini. Selain itu juga untuk memberikan pembelajaran sejarah kepada anak cucu kita nanti.



sumber : kompas.com

0 komentar:

Poskan Komentar

Daftar Blog


 

Indonesia Hijau Copyright © 2009 Community is Designed by Bie

world.gif Pictures, Images and Photos